Jumat, 26 Oktober 2012

Sejarawan: Para aktivis 98 durhaka pada reformasi

Semangat kaum muda untuk melakukan perubahan, belum sepenuhnya tersalurkan dalam pembangunan bangsa Indonesia. Ini karena ada indikasi peran generasi tua yang sengaja melakukan pembatasan terhadap keterlibatan pemuda. Seperti saat momentum reformasi 1998.

Menurut sejarawan JJ Rizal, reformasi 1998 tidak membawa perubahan berarti untuk demokrasi Indonesia. meski motor penggerak reformasi adalah kaum muda, namun reformasi tidak lebih dari usaha peralihan kekuasaan kepada generasi tua.

"Saya curiga mereka tidak siap dengan sistem demokrasi. Mereka hanya ingin merobohkan rezim otoritarianisme, kemudian menyerahkan kekuasaan kembali dipegang generasi tua," kata JJ Rizal disela diskusi di Warung Daun Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (27/10).

Pada kesempatan sama, tokoh perempuan Dita Indah Sari mengatakan, sebenarnya pemuda mendapat momentum besar melakukan perubahan ketika terjadinya reformasi 1998. Tetapi, lagi-lagi momentum tersebut diambil alih oleh generasi tua.

"Potensi gerakan 1998, ternyata memiliki representasi politik yang kecil. Manifestasi tokoh-tokoh politik muda yang rekam jejaknya progresif, itu kecil jumlahnya dalam struktur kekuasaan," lanjut Dita.

Politisi Partai Golongan Karya, Poempida Hidayatullah juga mengatakan jika kaum muda merupakan faktor penting pendorong perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik. Sebab kaum muda memiliki segudang kelebihan yang tidak dimiliki kaum tua.

"Kaum muda punya energi, gagasan dan kreativitas. Sayangnya, pembangunan tidak dapat menyalurkan apa yang ada dalam diri kaum muda," terang Poempida.